MASA KECILKU
Saya rindu masa-masa kecil dulu. Masa-masa yang telah lama
saya tinggalkan. Masa kecil yang penuh kenangan, menyenangkan, karena yang
menyakitkan tak pernah mau ku kenang, atau memang sebenarnya tak ada yang
menyakitkan. Ah… bagi ku sekarang, semua kisah masa kecil dulu menyenangkan.
Masa-masa yang saya habiskan di kampun sebelah (di rumah om ku yang dulu
menjadi tempat tinggal ku,) Masa-masa yang aku habiskan bersama teman-teman dan
sepupu ku 4 orang AiZzZz(bandel-bandel)…. Betapa besarnya pengalaman hidup yang
begitu mengesankan itu.
Akan aku goreskan kenangan itu, tidak hanya di dalam
ingatan, tapi juga dalam guratan kata-kata yang saya rangkai menjadi sebuah
kisah. Kisah masa kecil saya. Oh….begitu banyak, hingga aku bingung mulai
dari mana. Tapi selebihnya, menulis kisah ini begitu mengasyikkan. Perjalanan
mengenang masa lalu. Masa kecil di tanah kelahiran saya.
Dari umur 9 tahun saya pindah sekolah ke kampung om ku
awalnya saya masih hepyy bahkan sampai aku lupa sama keluarga ku karena masi
banyak teman baru dan mungkin aku baru di situ yaa?makanya masi banyak yang
mau berteman sama saya,lama-kelamaan saya suda merasakan kesepian.bosan sama
kehidupan ku di kampun orang lain di situlah saya menyadari kalau sejelek-jeleknya kampung
ku tetap saja kampung kelahiran sendiri,tiap hari nagis,pengen pulang
rasa-rasanya tak mau lagi sekolah humm….TIDAK ada yang menyenangkan saat itu..tetapi hari demi hari saya lalui akhirnya saya suda bisa menyesuaikan
diri di kampunnya om ku.
MANDI-MANDI DI KALI
Huum rasa-rasa saya tidak mau ingat waktu itu….oh tuhan
memalukan!!!!
aku berenang dengan teman-temanku di kali saat itu salah satu temanku ada yang dicari kakeknya karna bermain tidak minta izin dulu kakek itu pun mencari cucunya dan pada saat kakek itu ke kali kakek tersebut melihat kami bermain di kali tersebut maka kakek itu pun sontak berlari dan melontarkan kata-kata hujatan ke kami,dan sontak melihat kakek itu berlari maka teman temanku pun berlarian karena takut sampai-sampai lupa celana dan baju,maka kami pun pulang dengan keadaan telanjang hahahaha karna baju kami di tengelamkan kakek itu ke kali.dan pada saat itu kami pun mulai takut dan lari ketika melihat kakek tersebut.
BERMAIN DI LAPANGAN
Hampir tiap hari, aku bermain dengan teman-teman kampungku.
Mereka ada banyak sekali. Kadang mereka membuatku tertawa, kadang menangis.
Tapi semuanya bagiku indah, semua yang aku lakukan bersama teman-teman
kampungku.
Kami punya tempat-tempat favorit untuk bermain. Kami biasa
bermain petak umpet, gobak sodor, kasti, beteng, atau patung-patungan di tanah
lapang yang terhampar di depan rumah teman-teman kampungku. Semuanya seru,
apalagi kalau sudah main kasti, Bapak-bapak dan Ibu-ibu penonton menyoraki dan
kadang tertawa terbahak-bahak melihat aksi kami. Sejatinya, permainan kasti
adalah memukul bola yang dilempar lawan sejauh-jauhnya, tapi yang kami lakukan
adalah melempar pemukul sejauh-jauhnya. Begitulah, permainan itu tak pernah
serius, tapi cukup untuk memuaskan hati kami. Setidaknya kami pernah mencoba
permainan Jepang itu, meski acak-kadut kami tak peduli, yang penting semuanya
Happy.
hahahaa
inilanh cerita singkat dari saya masi banyak lagi pengalaman-pengalaman yang mengesangkan.
PENDIDIKAN ISLAM PADA ZAMAN RASULLULAH
Bagaimana pendidikan Islam pada zaman Rasullulah ? pendidikan islam pada zaman Rasulullah tentu sangat berbeda dengan pendidikan yang kita temui pada zaman sekarang.
Pendidikan islam pada zaman Rasulullah dibedakan menjadi dua jenis yaitu pendidikan Islam periode Makkah dan pendidikan Islam periode Madinah.
Pendidikan islam periode Makkah
merupakan penyebaran ajaran Islam yang dilakukan oleh Rasulullah kepada
keluarga dan orang-orang terdekatnya dengan cara yang lemah lembut.
Tiga tahun kemudian diturunkan ayat Alquran yang meminta Rasulullah
untuk menyampaikan ajaran Islam secara terbuka dan terang-terangan
kepada sahabat dan masyarakat umum. Rumah Al-Arqam menjadi tempat
pendidikan Islam pertama pada zaman Rasulullah dan digunakan oleh Rasul
sebagai tempat berdakwah. Dalam menyebarkan ajaran Islam Rasul
menggunakan metode berceramah dan berpidato. Rasul memanfaatkan
tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang sebagai tempat menebarkan
ajaran Islam. Pendidikan Islam pada periode Makkah Menurut Mahmud Yunus
di dalam buku Sejarah Pendidikan Islam meliputi :
1. Pendidikan
keagamaan yang mengajarkan agar selalu menyebut asma Allah ketika
hendak melakukan sesuatu dan tidak mempersekutukan Allah, tidak
menyembah berhala.
2. Pendidikan ilmiah dan pendidikan alkiyah yang menceritakan asalmula terbentuknya alam
semesta dan manusia yang berasal dari segumpal darah.
3. Pendidikan akhlak dan pendidikan budi pekerti yang mengajarkan manusia untuk selalu mangamalkan ajaran tauhid.
4.
Pendidikan jasmani dan kesehatan yang mengajarkan manusia untuk
selalu menjaga kebersihan badan, pakaian, dan lingkungan tempat
tinggalnya.
Pendidikan Islam pada periode Madinah lebih
menekankan kepada masalah ibadah dan syariat. Pada masa ini Rasul
mengajarkan bahwa sholat jum’at hukumnya wajib dan sholat hari raya
hukumnya sunnah. Ajaran untuk berpuasa mulai diperkenalkan pada tahun
kedua hijriyah. Ajaran untuk menunaikan ibadah haji, mengeluarkan zakat,
dan hukum yang mengatur tentang perkawaninan mulai diperkenalkan pada
tahun ke enam hijriyah. Pada tahun ini juga mulai diajarkan teknik baca
tulis. Rasul mengajarkan pada sahabat untuk membaca dan menulis
ayat-ayat Alquran yang sudah diwahyukan kepadanya. Rasul juga
mengajarkan umat Islam agar selalu membaca Alquran. Selama menyebarkan
ajaran Islam di Madinah Rasulullah mengemban dua jabatan yaitu sebagai
pemimpin negara dan sebagai tokoh agama. Rasulullah berhasil membangun
masjid Nabawi dan masjid Quba. Pada masa Rasulullah masjid juga
digunakan sebagai sekolah.
Perbedaan pendidikan Islam pada periode Makkah dan periode Madinah ialah
pada periode Makkah lebih ditekankan kepada ajaran tauhid dengan
menanamkan nilai tauhid kepada setiap muslim sedangkan pada periode
Madinah lebih ditekankan kepada bidang pendidikan,sosial dan politik
dengan dijiwai oleh nilai-nilai tauhid yang merupakan kelanjutan dari
ajaran tauhid yang dikembangkan di Makkah.